kabar burung Indonesia

 

       Tiba-tiba terasa ada yang lain. Meski semuanya masih sama. Padang rumput yang luas di kampus La Trobe, pepohonan gum yang barusan menghijau selepas winter, danau-danau kecil dan sebagian mereka yang berebut menikmati cuilan-cuilan santap siang dari tangan mahasiswa-mahasiswi. Agak sepi sih memang tawaran muffin atau kebab atau pizza hari ini karena sepertinya mahasiswa-mahasiswi kali ini lebih senang buru-buru menyantap makan siang, lalu kembali ke perpustakaan untuk mengejar due date tugas kuliah atau kalau sedang ditemani kekasih, memilih beradu ciuman untuk mengimbangi hangatnya mentari awal summer ini. Tapi ini juga bukan hal baru. Hanya burung dara yang terkenal pamer kemesraan yang merasa tersaingi melihat kompaknya muda-mudi dalam menjadikan padang rumput di awal bulan November arena ritual percintaan mereka.

       Tak ada gerombolan gagak disana. Tak satu gagak pun terlihat. Rupanya mereka sedang punya acara sendiri. Ada tamu dari Indonesia. Si tamu, gagak hitam, terlihat sangat lelah tapi dia teruskan cerita tentang dirinya. Dia merasa banyak hal yang perlu dia bagi. Paling tidak itu akan membuat beban dalam dirinya berkurang.

       “Aku lelah bersembunyi. Aku sungguh iri dengan kalian disini. Kalian terbang kemana saja kalian suka, hinggap dimana saja kalian mau, bahkan sering kulihat kalian berbagi santapan dengan mereka” jelas dia tidak sedang berbasa-basi.

       “Aku simbol kematian. Aku tidak melakukan apapun yang kalian tidak lakukan tetapi setiap kali aku terbang, aku hinggap, aku bersuara ‘frak, frak, frak’ seperti juga suara kalian aku melihat mereka cemas, aku melihat mereka bertanya-tanya siapa kiranya yang akan mati. Kalau aku memaksakan berdiam diri sekedar melepas lelah, aku melihat ketakutan dimata mereka, semenjak lahir aku dibayang-bayangi dengan suasana mencekam itu, pandangan tidak bersahabat dari mereka, aku segera terbang, bukan untuk menghindar dari kekonyolan mereka, tetapi untuk menyudahi ketidaknyamanan karena kehadiranku. Anehnya mereka semakin meyakini aku ada sebagai pembawa berita petaka karena kemudian ada yang mati, satu dua tetangga sekitar yang sudah tua, atau yang sakit, kalau nggak, yang mati kerabatnya yang tinggal jauh dari tempat aku hinggap, tetapi tetap saja aku lah yang jadi pertanda, mereka banyak jumlahnya, mereka terhubung satu sama lain karena darah, tempat tinggal, atau kerja, dan diantara mereka ada yang mati, setiap hari, aku dan etnisku tetap menjadi pertanda kematian” lanjut si tamu. Yakin dirinya masih disimak, dia teruskan …

       “Sedikit sekali yang mereka ketahui tentang aku, mereka nggak ngerti apa yang aku makan, mereka kira aku hidup dari jiwa-jiwa yang lepas dari raga mereka, aku ada tetapi keberadaanku ditiadakan, aku heran bagaimana mereka bisa begitu bersahabat dengan kalian disini, tidak terganggu dengan suara kalian yang parau, bahkan terdengar seperti umpatan sumpah serapah mereka ‘frak, frak, frak’ (dalam otaknya ada huruf ‘u’, ‘u’,” si tamu tersenyum geli mencoba sedikit mencairkan forum yang mulai tegang.

       “Apa yang akan kusampaikan selanjutnya ada hubungannya dengan etnis yang lain disini, so kalau nggak keberatan, mohon undang mereka” si tamu yakin akan kontribusinya di negeri baru ini maka dia menginginkan ajang yang lebih besar.

       Serempak, seolah-olah menunjukkan kebebasan bersuara dan kepercayaan diri, semua gagak di La Trobe berteriak “frak, frak, frak” dan etnis yang lain pun berdatangan, dalam penyambutan parakit hijau lebih senang dipanggil ‘sahabat’, para jalak minta disapa ‘kawan’, kakatua raja akrab dengan sebutan ‘ikhwan’ burung dara dengan ‘saudara’ dan sebutan lain untuk etnis yang lain.    

       “Begini ‘semua’ (itulah panggilan yang akhirnya si tamu pilih, kawatir kalau menggunakan salah satu sapaan tadi dianggap berpihak, atau bahkan kurang nggerti audien dan tidak multikulturalis) aku gagak hitam dari Indonesia, simbol kematian” sekejap si tamu melihat keterkejutan di mata para hadirin

       “jangan berlebihan dan jangan berprasangka, simbol seringkali menyesatkan dan jelas simbol diciptakan dan dipahami oleh mereka yang sepakat saja” si tamu mulai berbicara akademis untuk menjaga jarak dirinya dengan apa yang akan dia omongkan.

       “Aku terbang jauh dari negeriku kesini pertama karena aku sumpek dengan yang kuhadapi di negeriku, kedua karena fasilitas yang kalian berikan kepadaku memungkinkanku untuk melakukan perjalanan ini, terimakasih (si tamu membiasakan diri mengucapkan kata sakti itu disini, meski di negerinya dia diajarkan perasaan hutang budi lebih penting dari kata itu) ketiga, karena aku juga punya sesuatu yang bisa kuberikan kepada kalian (si tamu yakin betul, keseimbangan take and give inilah yang menjiwai semua interaksi di dunia yang pragmatis ini), dan pada kesempatan inilah aku ingin bagikan apa yang kupunya”.

       “bangsa kita, di negeriku, menderita” singkat kalimat si tamu tetapi ini cukup menjadi pengantar presentasi yang menarik.

       “Empat macam penderitaan, pertama, terperangkap dalam sangkar selamanya menunggu mati, kedua, dalam pelarian dari satu pohon ke pohon lainnya di bawah ancaman senapan angin, ketapel atau pulut perangkap dan saat naas tiba mati tertembus peluru, terhantam batu atau berakhir ke penderitaan nomor satu, masuk sangkar sampai mati, ketiga, kebebasan semu, kamu boleh terbang kemanapun kamu suka, tetapi saat ada mereka yang lapar atau menginginkan menu baru, kamu mati di piring mereka, keempat, terpanggang dihidup-hidup di hutan” si tamu mengutarakan poin-poin pembicaraannya.

       “Derkuku, jalak, muray, cucak rawa, cendrawasih, kakatua raja, semua parakit, dan yang lain, keindahan suara, dan warna bulu-bulu kalian akan membuat kalian berakhir di sangkar-sangkar kecil di rumah mereka, atau sangkar besar di kebun binatang” hadirin yang disapa si tamu mulai merinding membayangkan dirinya sebagai pelakon cerita.

       “Semua dari kita, yang kebetulan terlahir di luar sangkar, dari ayah-bunda kita yang pejuang dan bernasib baik setidaknya sampai kita lahir, setiap hari selalu dibekali nasehat ‘berhati-hatilah nak, perhatikan sekelilingmu, jangan rakus menikmati santapanmu sehingga lupa dibawah sana mereka membidikmu, jangan hinggap di satu tempat terlalu lama dan jangan pamerkan suaramu, bahkan untuk menyapa kami ayah-bundamu, dan kalau kita tidak lagi bertemu sore nanti, jangan cari kami, perhatikan saja keselamatan kalian” masih ada tangis juga di mata si tamu meski dia berusaha keras menahannya, sekarang malah lebih deras dari biasanya karena para hadirin menunjukkan empatinya dan tidak kuasa juga membendung airmata.   

       “kalian burung dara, dijadikan teman mereka, dibikinkan tempat berteduh dan disediakan makanan kesukaan kalian, kalian boleh terbang kemana saja tetapi pasti kalian akan kembali kepada mereka karena itu lebih baik bagi kalian daripada menjadi burung liar. Mereka suka melihat kalian bercumbu, kalian punya anak, kalian bercumbu lagi, punya anak lagi, lalu mereka datang kepadamu suatu petang, mengambil seberapa banyak dari kalian yang mereka butuhkan, menyisakan sepasang dua pasang dari kalian yang masih muda untuk bercumbu dan beranak lagi, kalian tidak sempat berpamitan pada anak cucu kalian karena kalian terlena dengan kebebasan semu yang mereka tawarkan” si tamu, gagak hitam, seolah ingin menasehati kawanan burung dara, dia lupa burung dara disini beda dengan di negerinya. Burung dara disini buuanyaak sekali, bahkan mereka ada di stasiun-stasiun tanpa rasa takut berakhir mati di piring-piring.

       “diantara yang terlahir di hutan, kakatua raja, cendrawasih, dan yang lainnya, dari ayah-bunda yang lugu, yang tidak tahu seperti apa sesungguhnya mereka itu, tumbuh dengan nyanyian kasih sayang, yang terlalu indah untuk disimpan saja di telinga, semua menyanyikannya, semua menari, semua pamerkan warna-warni bajunya, dan tiba-tiba saja panas dimana-mana, api mengejar, memanggang semuanya” rupanya untuk poin yang keempat ini, si tamu kurang banyak punya data, observasi dan researchnya tidak begitu menunjang dan terlebih lagi dirinya terlahir di kebun kelapa, dekat dengan desa, sekali waktu ke kota tetapi hutan belum pernah disinggahinya.

       “Aku pikir akan lebih baik kalau kemudian kita berdiskusi, sehingga aku tidak terjebak dalam fenomena teacher-centered dan kalian pun dapat mengembangkan critical thinking, percayalah aku mulai terbiasa dengan cara kalian disini” si tamu secara terbuka menghormati pendekatan keilmuan disini dan bersiap diri untuk tidak mengganggap pendapatnya sendiri yang benar.

       “Menurutmu apakah mereka jahat? Mengapa mereka begitu tega terhadap bangsa kita? Apakah kamu akan kembali ke negerimu? Atau kau juga akan menjadi warga baru kami?” langsung saja banyak pertanyaan kritis dilontarkan, si tamu tenang.

       “Aku jawab tidak urut. Aku mulai dari yang mendasar. Aku tidak akan menjadi warga baru kalian dan aku akan kembali ke negeriku” terdengar hadirin sedikit ribut dengan jawaban ini, ada yang menganggap si tamu sok nasionalis, tidak rasional, dan kolot karena takut dengan perubahan.

       “Aku meyakini mereka tidak jahat, aku melihat mereka sebagai korban juga. Setiap kali aku melihat anak-anak kecil dari mereka, aku merasakan persahabatan, aku merasakan kekaguman mereka, aku sering sempatkan tengok bangsa kita di kebun binatang, dan sumber kebahagiaan mereka yang tersisa adalah anak-anak kecil mereka itu. Mata mereka berbinar saat melihat warna-warni kita, nyanyian kita, kepakan sayap kita dan kalian pasti rasakan itu, ada energi disana, yang membuat kita pengin terus hidup meski terpenjara” kata si tamu antusias.

       “Aku juga mengerti ketika kemudian anak-anak kecil itu tumbuh besar, ada bayang-bayang di kepala mereka seperti juga yang terus ada dikepala-kepala bapak-ibu mereka, yang tiba-tiba saja mengubah mereka menjadi bengis saat mereka lapar, menjadi rakus saat kenal uang yang dihasilkan dari melombakan kita, atau menjadi dungu dengan apa yang mereka sendiri lakukan karena kalau bukan mereka yang menembak, atau memburu bangsa kita, ada mereka-mereka yang lain disana yang menembak dan memburu kita sehingga mereka tidak kebagian rejeki dari kita, mereka terlanjur masuk dalam perangkap kesalahan bersama yang tidak akan hilang sampai mereka sendiri secara bersama-sama menghancurkannya” si tamu lancar sekali mengatakannya selayaknya ahli dalam bidangya.                  

       “Nah, untuk itulah aku kembali. Ada perjuangan yang harus kumenangkan. Harus ada yang memberi mereka kesempatan untuk menyadari kesalahan mereka, harus ada yang mengingatkan mereka bahwa hidup ini tidak berpusat pada kepentingan mereka saja, aku ingin terus terlihat disekililing mereka meski sekejap dan terus berpindah dan bersuara, agar mereka perlahan sadar aku bukan berita kematian tetapi berita kehidupan, agar mereka mulai merindukan suaraku dan mendengar kepak sayapku, saat ini akulah yang paling punya kesempatan untuk itu karena yang lain ada disangkar-sangkar. Mungkin aku berlebihan meminta ini, tetapi lain kali kalianlah yang harus datang ketempatku, berikanlah fasilitas untuk sebanyak-banyak kalian berkunjung ke negeriku dan bersama-sama kita ramaikan langit Indonesia dengan kepakan sayap kita, dan nyanyian kita, nyanyian kehidupan untuk semua” tidak terdengar gemuruh applauses dari hadirin tetapi gagak hitam dari Indonesia yakin didada hadirin ada genderang, perasaan tertantang untuk berbuat lebih demi dunia”

 

           

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: